| sumber |
Tasikmalaya memiliki batik khasnya sendiri. Sayangnya, batik
Tasikmalaya kalah pamor dibanding batik asal Pekalongan dan Solo.
Padahal, keelokan batik Tasikmalaya tak bisa dianggap sebelah mata.
Lihat
saja sekilas dan Anda pasti jatuh hati. Bagaimana tidak, warna-warna
mencolok seperti merah, biru, dan hijau merupakan warna khas dari batik
Tasikmalaya. Menurut Deden, perajin batik Tasikmalaya, ketiga warna
cerah tersebut sejak lama menjadi ciri khas batik Tasikmalaya. Deden
merupakan salah satu perajin di sentra batik Tasikmalaya yang terletak
di Jalan Cigeureung, Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Kita
juga produksi warna juga sesuai permintaan pasar. Tapi kalau merah,
biru, dan hijau ini ciri khas dari dulu, jadi selalu ada. Sekarang
trennya itu warna ungu," ujarnya.
Deden adalah pemain lama di
industri batik Tasikmalaya. Ia terkenal sebagai produsen terbesar di
Cigeureung. Deden merupakan generasi kedua dari keluarga perajin batik
Tasikmalaya.
"Ini sejak tahun 1950-an. Awalnya usaha bapak saya,
Haji Asep. Masih rumahan lalu punya satu pabrik. Sekarang kita ada dua
pabrik," tuturnya.
Beberapa ornamen klasik khas batik Tasikmalaya
adalah lereng suling, sekar jagat, dan serat kayu. Ada pula
ornamen-ornamen lainnya. Sebut saja ornamen bilik yang berbentuk seperti
garis-garis berjejer dalam posisi horizontal berselingan dengan posisi
vertikal.
Deden memproduksi batik dengan dua cara, yaitu batik
tulis dan batik cap. Ia menceritakan perlu waktu dua minggu untuk
menghasilkan batik tulis. Sementara batik cap hanya perlu sekitar dua
hari. Oleh karena itu, batik tulis tentu saja lebih mahal harganya.
Deden
biasa mengikuti pameran di Jakarta sehingga para pelanggannya pun
tersebar di berbagai daerah. Jika Anda warga Jakarta, tenang saja ketika
Anda mampir ke galeri Deden di Tasikmalaya, tetapi merasa tak menemukan
apa yang Anda cari. Anda bisa memesan untuk model baju dengan kain
tertentu yang Anda inginkan. Lalu ambillah pesanan saat Deden ikut serta
pameran di Jakarta.
Memang, sering kali pelanggan menginginkan
suatu model, tetapi tak merasa cocok dengan warnanya. Ada pula pelanggan
yang naksir dengan suatu kain, tetapi tak tersedia dalam suatu bentuk
baju jadi. Jangan lupa untuk mampir ke pabrik Deden. Mintalah pegawai di
galeri untuk mengantarkan Anda ke pabrik sehingga Anda bisa melihat
proses pembuatannya. Selain itu, Anda juga bisa minta diajarkan
pembuatan batik.
"Gratis, kami tidak pungut bayaran untuk yang
ingin coba belajar singkat. Kami sediakan kain seukuran sapu tangan
untuk belajar membatik. Banyak rombongan yang datang kemari untuk
berwisata batik. Ada juga yang individu," katanya.
Beberapa orang mengaku harga batik Tasikmalaya lebih mahal dibanding batik asal Pekalongan dan Solo.
"Bahan
baku untuk batik Tasikmalaya masih ambil dari Pekalongan. Dulu di
Tasikmalaya ada pabrik tekstil tapi lalu tutup," ujar Deden. Salah satu
pegawainya, Bapak Aki, adalah mantan pekerja di pabrik tekstil tersebut.
Sejak pabrik itu tutup, ia pun bekerja di usaha batik milik Deden.
"Saya sudah kerja di sini sejak tahun 1976, dari masih dipegang Haji Asep," kata Bapak Aki sambil sibuk mengecap batik.
Ia
memang bertugas membuat batik cap. Bapak Aki mengaku di usianya yang
sudah tua, matanya mulai lemah. "Jadinya oleh Pak Deden saya ditugaskan
untuk mengecap motif yang besar-besar saja. Kalau yang motif kecil saya
susah lihatnya," ujarnya.
Sementara itu, di sudut lain pabrik
batik milik Deden, tangan-tangan terampil ibu-ibu tua bagaikan menari di
atas kain. Canting bergesekan dengan kain dan aroma lilin mengudara.
Deden menjelaskan, ia sengaja mempekerjakan para ibu sepuh itu karena
memang mereka ini yang terampil dalam membatik. "Mereka sangat teliti
dan rapi," ujarnya. Sesekali terdengar riuh tawa para ibu yang saling
bercanda. Dalam dekapan kain warna-warni, ibu-ibu sepuh itu laksana
sedang bermain dalam taman batik.sumber

Post a Comment
Terima Kasih Telah Berkunjung, Suka postingan ini?Tinggalkan komentar di bawah ini, terima kasih! :)