Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts
Helikopter Mi-35P : "Tank terbang" milik TNI AD
![]() |
| Helikopter Mi-35 |
Mi-35P merupakan helikopter serang buatan Rusia hasil pengembangan
dari helikopter militer sebelumnya yaitu Mi-24. Helikopter ini
mengombinasikan kemampuan tembak dan kemampuan mengangkut tentara,
keunggulan lain dari Mi-35P adalah bagian tubuh dan kanopi kacanya mampu
menahan tembakan hingga kaliber 20 mm dari jarak cukup dekat, sehingga
mendapat julukan "Tank terbang". Untuk persenjataan TNI memodifikasi
dengan menambahkan senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan
senjata laras ganda dengan kaliber 30 mm serta pemasangan rudal AT 9
yang merupakan rudal anti Tank.
Indonesia sejak oktober 2010 sudah memiliki 5 unit Helikopter Mi-35P
yang bermarkas di Skuadron 31/Serbu Pusat Penerbangan TNI-AD. Dilihat
dari kemampuan tempur serta daya angkutnya Helikopter Mi-35P bisa
disejajarkan dengan jenis helikopter AH-1 Cobra, UH-60 Black Hawk, AH-64
Apache atau pun Mangusta A129.
Karakteristik umum Mi-35P
- Kru : 3 (pilot, perwira persenjataan, teknisi)
- Kapasitas : 8 prajurit atau 4 tandu
- Panjang : 17,5 m
- Diameter baling-baling : 17,3 m
- Rentang Sayap : 6,5 m
- Tinggi : 6,5 m
- Area piringan: 235 m²
- Berat kosong : 8.500 kg
- Berat maksimum lepas landas : 12.000 kg
- Mesin : 2× Isotov TV3-117 turbin, 1.600 kW (2.200 hp) masing-masing Performa
- Kecepatan maksimum : 335 km/h (208 mph)
- Jarak jangkau : 450 km (280 miles)
- 30 mm Yakushev-Borzov multi-barrel machine gun
- 1500 kg bom
- 4× Peluru kendali anti tank (AT-2 Swatter atau AT-6 Spiral)
- 4× 57 mm S-5 rocket pod atau 4× 80 mm S-8 rocket pod
- 2× 23 mm meriam dua laras (machinegun-pod)
- 4× tangki bahan bakar eksternal
Demi 'XIA AI MEI', Franda Rela Privat Bahasa Mandarin
![]() |
Sebagai pendatang baru di dunia akting, Franda sempat mengaku kesulitan memainkan peran Xixi dalam film terbarunya yang berjudul XIA AI MEI. Pasalnya, dalam film tersebut dia dituntut untuk menggunakan bahasa yang tidak dikuasainya, yaitu bahasa Mandarin.
Agar perannya tetap optimal
dalam film tersebut, wanita bernama lengkap Franda Stephanus ini pun harus rela
meluangkan waktu untuk belajar bahasa Mandarin. Untungnya dia sempat mendengar
sedikit-sedikit beberapa kosakata Mandarin sehingga tidak terlalu sulit
mempelajarinya.
"Jadi ada pengajarnya.
Sebenarnya bahasa Mandarin aku nggak buta-buta amat, karena aku pernah belajar
dulu, dan sering nonton film. Jadi lumayan lah kupingnya pernah denger. Cuman
susah di nadanya. Kata-kata gampang, pelafalannya juga gampang. Tapi kalau
salah nada, itu salah arti," jelasnya saat ditemui di XXI Plasa Indonesia
pada Kamis (5/1) malam.
"Kalau di film ini
pakai Mandarin. Kalau Inggrisnya dari keseluruhan film aku lebih banyak ke
gesturenya untuk menyampaikan Inggris aku ke lawan main. Cuman Inggrisnya itu
ya susah-susah gampang. Diajarin juga sama tutornya itu. Karena dia kan pernah
tinggal di Cina, jadi dia tau. Jadi dia bisa tuntun kita untuk pelafalan dan
nadanya itu seperti apa," lanjutnya.
Syuting film ini dilakukan
selama kurang lebih tiga minggu di Jakarta dan Cina. Namun pengambilan gambar
lebih banyak dilakukan di Jakarta. Dalam film yang dibintanginya bersama Samuel
Rizal ini, Franda bakal berperan sebagai gadis yang terjebak di rumah bordir.
"Syutingnya kurang
lebih 3 mingguan di Jakarta dan Cina. Kebanyakan di Jakarta, di Cina empat
hari. Lokasi tepatnya sebuah desa di provinsi Nanjing," imbuhnya.
(kpl/dis/ris)
film en entier (complet) HHOOD
a
Label:
Film
film garuda didadaku 2 2011
Garuda di Dadaku merupakan film Indonesia yang dirilis pada 2009 tepat dirilis pada tanggal hari Kamis, 18 Juni 2009 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah.
Label:
Film
Film Pembantaian Warga PKI Menuai Sorotan
![]() |
Film mengenai pembantaian massal di Indonesia pada era 1965-1966 mengundang perhatian masyarakat. Film berjudul The Act of Killing
yang merupakan dokumenter itu mengungkapkan mengenai pengakuan sang
algojo dalam pembantaian warga yang dianggap simpatisan Partai Komunis
Indonesia (PKI) dan sejumlah etnis Tionghoa.
Film itu
diputar di Toronto International Film Festival 2012 pada September lalu
dan trailernya bisa disaksikan secara online di situs YouTube. Film
tersebut menceritakan mengenai Anwar Congo, seorang preman yang kemudian
menjadi tukang jagal para simpatisan PKI di Medan.
Di situsnya,
film dokumenter ini mengundang komentar dari berbagai kalangan, termasuk
dari Komnas HAM. Dalam hal ini, Komnas HAM menyatakan film tersebut
penting untuk ditonton orang Indonesia. “Kalau kita sedang menuju ke
arah Demokrasi, maka setiap warga negara harus mengetahui teror dan
tekanan yang pernah terjadi dalam sejarah.”
Komentar juga
disampaikan sejumlah kalangan lain yang intinya menyebutkan bahwa film
tersebut layak ditonton. Begitu pula dengan klip film yang ditayangkan
di situs YouTube. Sejumlah komentar mengapresiasi film tersebut dan
banyak pula yang berkomentar mengenai peristiwa di tahun 1965-1966.
Diskusi mengenai eksistensi peristiwa tersebut dan wacana mengenai PKI
pun berkembang melalui situs itu.
Belakangan, Anwar Congo menyatakan merasa tertipu oleh pembuat film tersebut. Sebab, awalnya film itu berjudul Arsan dan Aminah, bukan The Act of Killing. Di film itu Anwar berbicara secara terbuka mengenai perannya menghabisi warga, terutama dari etnis Tionghoa.
Film
ini dibuat oleh sutradara asal Texas, AS Joshua Oppenheimer, Christine
Cynn, dan sejumlah orang yang disebutkan anonim. [tjs]
Label:
Film,
informasi,
seputar kriminal
Turki Balas Serangan Mortir ke Suriah
![]() |









:ngakak